Sabtu, 08 Desember 2012

Uji Stabilitas Obat Anti Peradangan Indometasin Farnesil yang Tersalut Gel Kitosan-Gom Guar



TUGAS TERSTRUKTUR STABILITAS OBAT
REVIEW JURNAL

UJI STABILITAS OBAT ANTI PERADANGAN INDOMETASIN FARNESIL YANG TERSALUT GEL KITOSAN-GOM GUAR”


 








Disusun oleh:

Herlina Agustyani                 (G1F011005)
Dwi Justitia Aprilia               (G1F011009)
Rifka Husniati                       (G1F011025)


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PURWOKERTO
2012



I.            PENDAHULUAN

Pada jurnal yang kami bahas yakni mengenai uji stabilitas pada obat indometasil farnesil. Sediaan obat tersebut dibuat dalam formulasi mikrokapsul kitosan-gom guar dengan zat aktif infar. Obat ini merupakan sediaan obat yang baru, sehingga perlu dilakukan uji stabilitas untuk mengetahui kestabilan dan usia gunanya. Hal ini perlu dilakukan agar mutu, keamanan, dan khasiat obat selama penggunaan terjamin.
Indometasin farnesil (infar) merupakan salah satu senyawa aktif obat yang sangat efektif sebagai obat anti peradangan nonsteroid (NSAID). Obat ini bersifat tidak larut dalam air dan penggunaannya dalam dosis tinggi dapat menyebabkan pendarahan pada saluran pencernaan. Pengendalian pelepasan obat indometasin pernah dilakukan dengan membuatnya dalam bentuk sediaan mikrokapsul. Kelemahan tersebut diharapkan dapat teratasi dengan menyalutnya dalam mikrokapsul gel kitosan-gom guar. Indometasin farnesil berupa cairan berminyak warna kuning muda. Obat ini sangat mudah larut dalam Indometasin aseton, kloroform, asetonitril, atau eter; larut dalam etanol absolut; sedikit larut dalam metanol; serta tidak larut dalam air.
Kitosan merupakan polimer alam yang bersifat non toksik, biokompatibel, biodegradabel dan polikationik dalam suasana asam dan dapat membentuk gel (hidrogel) karena adanya ikatan silang kitosan-kitosan yang terjadi secara ionik. Kitosan memiliki struktur mirip selulosa, beberapa polimer turunan selulosa seperti hidroksi propil metil selulosa (HPMC) dan etil selulosa (EC) telah banyak digunakan dalam sediaan lepas terkendali, baik dalam bentuk matriks maupun mikrokapsul. Oleh karena kemiripan strukturnya, maka kitosan pun mampu membentuk gel dan berfungsi sebagai matriks dalam pengantaran obat. Namun, gel kitosan bersifat rapuh, oleh karena itu perlu dilakukan modifikasi untuk memperbaiki sifat mekanik gelnya (Sugita dkk,2010).
Berdasarkan penelitian Sugita et al. (2006a) gel kitosan yang terbentuk dengan penambahan penaut-silang glutaraldehida dan gom guar sebagai bahan saling tembus, memiliki sifat reologi yang lebih baik dan berpotensi sebagai sistem pengantaran obat. Gom guar sendiri pernah dimanfaatkan untuk memperbaiki sistem pengantaran obat untuk mengobati radang dan kanker usus besar.
Gom guar merupakan hidrokoloid alami yang diperoleh dari biji Cyamopsis tetragonolobus dan Cyamopsis psoraloides famili Leguminosae yang ditemukan di barat laut India dan Pakistan (Nussinovitch 1997). Pengolahan yang dilakukan meliputi pemisahan secara mekanik terhadap kulit biji, lalu lembaganya dibuang, dan endosperma yang mengandung gom digiling menjadi tepung halus (Fardiaz 1989). Gom guar merupakan galaktomanan dengan D-galaktosa berikatan (16) pada rantai tulang punggung (14) D-manopiranosa.
Mikroenkapsulasi adalah teknologi untuk menyalut atau melapisi suatu zat inti dengan suatu lapisan dinding polimer, sehingga menjadi partikel-partikel kecil berukuran mikro. Dengan adanya lapisan dinding polimer ini, diharapkan zat inti akan terlindungi dari pengaruh lingkungan luar (Istiyani,2008).
Uji stabilitas yang digunakan dalam jurnal yang kami review meliputi uji stabilitas kimia untuk mengetahui kadar infar, uji stabilitas fisika untuk mengetahui kadar air sediaan obat tersebut serta penentuan usia guna berdasarkan orede reaksinya. 



  II.            ISI

A.    Uji Stabilitas Kadar air
Stabilitas fisika adalah tidak terjadinya perubahan sifat fisik dari suatu produk selama waktu  penyimpanan. Uji stabilitas fisika digunakan untuk Mempertahankan sifat fisika awal dari suatu sediaan meliputi penampilan, kesesuaian, keseragaman, disolusi, disintegrasi, kekerasan, kemampuan disuspensikan (prosedur hampir sama dengan uji-uji selain stabilitas yang lain). Klasifikasi uji stabilitas berdasarkan bentuk sediaan:
1.    Uji stabilitas sediaan padat: serbuk, tablet, kapsul, mikro-kapsul.
        Ketidakstabilan secara fisika misalkan penurunan BA yang disebabkan oleh penurunan dissolusi tidak memenuhi syarat minimum untuk terapi.
2.    Uji stabilitas sistem dispersi: suspensi, emulsi, sistem misel, liposom.
        Ketidakstabilan secara fisika pada suspensi misalkan caking, maka dosis dalam 1 sendok teh akan berubah. Pada sediaan cream/emulsi misalkan pecah yaitu sifat emolient tidak akan sama dengan produk seharusnya.
3.    Uji stabilitas sediaan larutan : larutan sirup, larutan parenteral (Aswika,2011)
Dalam pengujian ini, kadar air infar diukur dengan moisture analyzer. Moisture analyzer adalah alat pengukur kadar lembab. Alat ini akan menampilkan data bobot mikrokapsul tersebut sampai data bobot yang terbaca konstan. Hal ini dilakukan sebagai evaluasi untuk mengontrol kualitas produk dan mengetahui layak tidaknya mikrokapsul yang diperoleh untuk digunakan dan dipasarkan (Istiyani,2008).
Stabilitas fisik sediaan mikrokapsul infar dilakukan dengan mengukur kadar air masing-masing formula selama 12 minggu dengan interval pengamatan setiap minggu.
Kadar air yang rendah (10%) sangat diharapkan dari suatu sediaan obat, agar kestabilannya lebih lama. Hasil yang diperoleh pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa kadar air dari formulasi sediaan tergolong tinggi (10%) dan berfluktuasi. Kadar air yang tinggi ini diduga diakibatkan oleh sifat membran kitosan-gom guar yang higroskopis. Air yang terserap akan membengkakkan mikrokapsul sehingga pori-porinya membesar dan infar yang berada di dalamnya mudah terlepas. Tingginya kadar air juga menyokong pertumbuhan mikroorganisme dan memacu beberapa reaksi kimia yang bersifat merusak. Mikrob yang tumbuh biasanya bakteri atau jamur, di antaranya Staphylococcus aureus. Adanya mikrob dan jamur pada obat dapat mengurangi khasiatnya dan menyebabkan bentuk sediaan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi. Kadar air yang tinggi dan berfluktuasi ini juga dapa diakibatkan oleh ukuran partikel mikrokapsul yang tidak seragam sehingga penyerapan air oleh masing-masing partikel tidak sama (Sugita,2009).

B.           Uji Kadar Indometasin Farnesil
Menurut  Agoes (2001), suatu sediaan obat dikatakan stabil jika kadar zat aktif yang masih tersalut setelah uji stabilitas jangka panjang sekurang-kurangnya 90%.
Dalam penelitian ini, penetapan kadar infar dalam mikrokapsul dilakukan secara spektrofotometri. Kadar infar yang tersalut membrane kitosan-gom guar pada minggu ke-0 adalah sekitar 5-9% (b/b). setelah 3 bulan, penyimpanan kadar infar yang tersalut mengalami penurunan untuk semua formula mikrokapsul. Sediaan obat yang stabil hanya mengalami penurunan kadar zat aktif tidak lebih dari 10% (Nata et al, 2007). Penurunan ini diduga karena membrane kitosan-gom guar membengkak saat disimpan di dalam climatic chamber. Menurut Nata et al (2007) suhu yang tinggi (40±2ยบ C) dan didukung oleh kadar air yang tinggi dapat membengkakkan membrane, sehingga pori-pori pada permukaannya akan membesar dan menyebabkan zat aktif di dalamnya mudah terlepas.
Persentase infar untuk semua formula setelah 3 bulan rata-rata menunjukkan nilai yang kecil, kecuali formula 2 (70,83%) dan 6 (77,67%) dan seluruhnya masih lebih rendah dari batas minimum untuk uji stabilitas yaitu 90%.

C.          Uji Usia Guna Obat
Hasil uji stabilitas selanjutnya digunakan untuk menentukan usia guna mikrokapsul.  Pengujian dilakukan dengn metode dipercepat, yaitu selama 3 bulan penyimpanan pada suhu (40±2)o C dan kelembaban relative (RH) (75±5)o % (Agoes,2001). Uji stabilitas dipercepat hanya dilakukan untuk meneliti dan memperoleh informasi bila sediaan (obat) dalam kondisi “stress” seperti karena pengaruh suhu dan kelembaban. Batasan 90% kadar indometasin farnesil yang masih tersalut sebagai syarat stabilitas obat dijadikan dasar penentuan usia guna dari sediaan tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan usia guna yang terdapat dalam jurnal ini menunjukkan bahwa kesembilan formula mikrokapsul memiliki usia guna relatif rendah (paling lama kurang lebih satu bulan). Urutan formula mikrokapsul dari usia guna terpanjang sampai terpendek ialah formula 6 (4.28 minggu=30 hari), 2, 5, 3, 7, 1, formula 4 (1.86 minggu=13 hari), 9, dan formula 8 (0.81 minggu=6 hari).
Berdasarkan kedua parameter uji stabilitas mikrokapsul formula 6 (kitosan 1.75% [b/v],  gom guar 0.19% [b/v], dan glutaraldehida 5.00 %[v/v]) menunjukkan stabilitas yang paling baik. Persentase infar yang masih tersalut paling besar dan usia gunanya juga paling panjang. Sementara itu, persentase infar paling kecil ditunjukkan oleh formula 4, dan usia guna paling pendek dimiliki formula 8 walaupun tidak berbeda jauh dengan usia guna mikrokapsul formula 4. Keduanya sulit untuk dibandingkan karena laju penguraiannya mengikuti orde yang berbeda.
Menurut Berger et al. (2004) dan Sugita et al. (2006a) penambahan senyawa pengikat silang menyebabkan jejaring gel semakin rapat dan cairan akan sulit masuk. Penambahan gom guar dengan konsentrasi sama pada mikrokapsul formula 4 dan 6 mampu melemahkan ikatan, hanya saja kekuatan ikatan membran pada mikrokapsul formula 4 lebih lemah karena glutaraldehida yang ditambahkan lebih sedikit, yaitu 4.00% [v/v]. Karena itu, ketika disimpan pada suhu tinggi (40±2 °C) membran mikrokapsul formula 4 akan lebih membengkak dibandingkan dengan membran formula 6 dan mengakibatkan infar didalamnya terlepas lebih cepat. Mikrokapsul formula 6 yang didapati paling baik stabilitasnya bukanlah komposisi gel yang paling kokoh ataupun yang paling rapuh. Jika kekuatan membran rendah (konsentrasi glutaraldehida rendah dan konsentrasi gom guar tinggi), jejaring gel yang terbentuk akan renggang. Kedua hal ini menyebabkan infar akan mudah lepas sehingga persentase infar yang masih tersalut lebih rendah dan usia gunanya lebih singkat.


                                                                                                                                                             III.            PENUTUP

Setiap sediaan obat baru harus diuji stabilitasnya untuk mengetahui usia guna dari sediaan tersebut sebagai syarat registrasi. Selain itu, juga untuk mengevaluasi formula obat yang dibuat. Uji stabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji kadar air, uji kadar zat aktif dan penentuan kadar usia guna obat. Kesembilan formula kapsul yang dibuat menunjukkan stabilitas yang kurang baik dan usia gunanya relatif pendek. Formula terbaik yang didapat adalah formula 6 dengan komposisi penyalut gom guar 0.19% [b/v] dan glutaraldehida 5.00% [v/v] dalam larutan kitosan yang dibuat tetap (1.75% [b/v]), merupakan mikrokapsul yang paling stabil dengan persentase infar yang masih tersalut, tetapan laju reaksi, dan usia guna berturut-turut 77.67%, 0.0008 (%b/b)-2minggu-1, dan 4.28 minggu atau 30 hari.



                                                                                                                                          IV.            DAFTAR PUSTAKA
B
BIA     (bila memerlukan, silakan menghubungi kami. Terima kasih :) )



Tidak ada komentar: